Dahulu kala, terdapat sebuah kampung kecil yang tentram di kaki Gunung
Sawal. Jumlah rumah di pemukiman tersebut tidak banyak, hanya tujuh
rumah saja. Kerangka dan lantai rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu,
menggunakan atap ijuk dan berdinding anyaman bambu. Anyaman bambu dalam
bahasa Sunda disebut bilik. Konon, keberadaan sebuah tempat bernama
Pasir Bilik berkaitan dengan kisah ini.
Syahdan, terdapatlah seorang gadis cantik di kampung tersebut, yang
bernama Nyi Mas Numang. Ia berparas ayu dan tutur katanya lemah lembut
memikat hati. Tak heran, banyak pemuda yang berminat mempersuntingnya.
Salah seorang di antaranya adalah seorang pangeran yang gagah perkasa.
Sang Pangeran mengajukan keinginannya, tetapi sayang, ternyata hanya
bisa pulang dengan tangan hampa. Ternyata, sang gadis pujaan telah
memiliki pilihan hati yang amat dicintainya. Tak lain, pemuda yang
beruntung itu adalah temannya semenjak kecil. Orang-tua Nyi Mas Numang
sendiri sebenarnya menginginkan anaknya berjodoh dengan pangeran
tersebut, tetapi kesetiaan anaknya tak dapat ditawar-tawar.
Sang Pangeran sakit hati dan murka. Ia kemudian menendang sebuah kuali
besar (bahasa sunda: kancah), hingga terbang terpental akibat kekuatan
kesaktiannya. Tempat hinggapnya kuali tersebut kini dikenal dengan nama
bukit Kancah Nangkub.
Nyi Mas Numang konon kemudian diusir oleh orang-tuanya. Ia kemudian
pergi bersama kekasihnya ke kaki bukit Kancah Nangkub. Di tempat itu ia
tak henti-hentinya menangis, karena cintanya harus ditebus dengan
pengusiran oleh orang-tuanya.
Air matanya itulah yang konon kemudian menjadi mata air yang hingga kini
disebut Cipanumbangan, yang berasal dari kata ‘cipa’, asalnya ‘cipanon’
(air mata), dan ‘numangan’, asalnya dari kata ‘numangan’ (Nyi Mas
Numang). Mata air tersebut menjadi sumber dan hulu sungai yang mengalir
di wilayang Panumbangan dan Tanjungmulya.


